Pemkot Cimahi Gelar Kawin Cai Sa-Nusantara Simbol Persatuan Bangsa

CIMAHI, (PERAKNEW).- Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi kembali menggelar acara tradisi Kawin Cai sa-Nusantara di Kampung Buyut Cipageran (Kabuci), Jl. Kolonel Masturi, Kota Cimahi, belum lama ini.

Tradisi unik, Kawin Cai sa-Nusantara (Kawin Air se-Nusantara). Tradisi ini mengkawinkan (menyatukan) air (cai dalam bahasa Sunda) dari seluruh kabuyutan yang ada di Tanah Air.

Tradisi ini diikuti 135 kabuyutan dari seluruh Nusantara yang membawa air untuk disatukan dalam satu tempat. Hal ini memiliki makna, bahwa semangat persatuan yang perlu terus dipupuk dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Hadir dalam upacara ini, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mewakili Presiden RI, Wali Kota Cimahi, Ajay M. Priatna, perwakilan Pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa Barat, para sesepuh dan pinisepuh Kabuyutan Cipageran, dan kabuyutan se-Nusantara. Termasuk para tamu agung dari Bali, Yogyakarta, Solo dan Thailand.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menuturkan, tradisi Kawin Cai sa-Nusantara sebagai simbol persatuan Indonesia yang harus terus kuat. Karena kuatnya persatuan dan kesatuan merupakan syarat sebuah negara maju, “Dengan tradisi ini semangat persatuan dihadirkan oleh forum-forum kebudayaan se-Nusantara. Salah satunya dengan simbolis membawa air dari seluruh Nusantara untuk ditempatkan di Jawa Barat ini sebagai symbol, bahwa persatuan Indonesia harus kuat,” kata Emil saat menghadiri tradisi Kawin Cai sa-Nusantara.

Lanjutnya, “Karena itu, syarat agar negara ini bisa maju dan tidak terpecah belah. Saya kira itu pesan utamanya,” ujarnya.

Untuk itu, Emil pun berharap melalui tradisi tersebut, persatuan Indonesia semakin kuat. Kokohnya tradisi juga ditentukan oleh kebudayaan yang terus dipelihara dan dijaga, karena bisa menunjukkan indentitas dan jati diri sebuah bangsa.

“Karena kebudayaan menunjukkan siapa kita. Selama kita tidak melanggar syariat, saya kira kebudayaan apa pun di Tanah Air Indonesia ini akan kita dukung,” tutur Emil.

Terkait kebudayaan, Emil berkomiten untuk terus memupuk kebudayaan yang ada di Jawa Barat. Salah satunya dengan membangun infrastruktur kebudayaan di seluruh Jawa Barat, “Dalam lima tahun kita komit akan membangun infrastruktur kebudayaan. Kami sudah anggarkan ke seluruh 27 kabupaten/kota di Jawa Barat akan dibangun pusat-pusat kebudayaan, seperti di Cipageran ini. Karena kami meyakini bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati budayanya,” kata Emil.

Pendidikan karakter melalui budaya dan kearifan lokal juga menjadi salah satu program penguatan karakter generasi muda Jawa Barat. Salah satunya melalui program Jabar Masagi. Implementasi Jabar Masagi adalah seluruh program, baik di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat yang mampu menumbuhkan generasi muda di Jawa Barat sebagai manusia berbudaya, “Kami, Provinsi Jawa Barat sudah menyiapkan pendidikan karakter. Karena kami milhat sekolah formal, kurikulum tidak cukup menghadapi masa depan,” papar Emil.

Jabar Masagi ini datang dari empat nilai kesundaan, “Pertama, yaitu Surti adalah merasa, belajar sensitif atau memahami sesuatu yang tidak terucapkan. Nilai kedua, yaitu Harti adalah belajar paham atau memahami. Yang ketiga, yaitu nilai Bukti artinya menunjukkan eksistensi kita dengan apa pun kita dan yang keempat, yaitu Bakti, seperti air mengalir ke masyarakat membawa kebermanfaatan,” terangnya. (Harold)